Hari: 26 Oktober 2021

Tari Kejei, Tarian Sakral dari BengkuluTari Kejei, Tarian Sakral dari Bengkulu

0 Comments 11:24 AM


Bengkulu merupakan provinsi yang kaya bakal kesenian, budaya, dan tradisi. Hasil karya ini banyak yang udah berusia sampai ratusan tahun. Meskipun udah berusia ratusan tahun, banyak yang tetap dipertahankan sampai hari ini. Salah satunya adalah Tari Kejei dari suku Rejang, Bengkulu.

Kejei berasal dari bahasa Rejang yang berarti perayaan besar. Tari ini judi slot online menjadi tidak benar satu urutan dalam upacara Kejei. Seperti namanya, upacara Kejei adalah hajatan terbesar suku Rejang yang bisa berjalan selama 15 hari, 1 bulan, bahkan sampai 9 bulan.

Tari Kejei, Tarian Sakral dari Bengkulu

Upacara ini umumnya cuma diadakan oleh orang-orang yang bisa dikarenakan mereka diwajibkan menyembelih beberapa ekor kerbau, sapi, atau kambing sebagai syarat sahnya. Selain sebagai urutan upacara Kejei, tari ini juga menjadi sarana perkenalan atau ajang mencari jodoh bagi muda dan mudi suku Rejang. Tari ini juga merupakan lambang rasa syukur kepada Tuhan dan para leluhur yang udah mengimbuhkan rejeki berlimpah serta kerukunan hidup dalam masyarakat.

Tari Kejei, Tarian Sakral dari Bengkulu

Pada zaman dahulu, Tari Kejei diiringi bersama dengan alat musik tradisional dari bambu, layaknya bilah bambu yang disusun menyerupai kulintang, bambu betung sebagai gong, serta bambu tertentu yang dibentuk menjadi serdam (alat musik tiup). Sejak masuknya efek Majapahit ke Rejang, alat musik dari bambu pun berubah menjadi logam, layaknya gong, kulintang, dan suling seperti yang di himbau oleh situs judi slot gacor.

Meski tidak ada catatan tentu kapan Tari Kejei pertama kali diciptakan, tetapi tari ini diduga udah ada sejak abad ke-13. Tari Kejei dilaporkan dalam catatan Hassanuddin Al Pasee, seorang pedagang Pasee yang mampir untuk berniaga ke Bengkulu terhadap th. 1468. Dalam sumber lain, info tersebut didapat dari Fhatahilla Al Pasee yang mampir ke Rejang terhadap th. 1532.

Tari Kejei dibawakan oleh penari yang berpasang-pasangan. Jumlah pasangan ini perlu ganjil, jikalau 3, 5, 7, atau 9 pasangan. Menurut keyakinan masyarakat, kuantitas ganjil tersebut bakal digenapi oleh arwah nenek moyang. Seluruh penari juga perlu tetap perawan atau perjaka. Jika tidak, konon alat musik yang digunakan bakal pecah.

Penari laki-laki Tari Kejei mengenakan pakaian jas belango warna hitam, celana panjang hitam, cek’ulew (penutup kepala), selempang kanan ke kiri, songket, dan keris. Sementara penari perempuan mengenakan pakaian kurung beludru warna merah bertabur logam kuning emas, selendang bersama dengan motif pucuk rebung, songket, serta aksesoris layaknya suntiang goyang, gelang, dan burung-burung.

Pelaksanaan Tari Kejei di mulai bersama dengan ritual temu’un gung klintan, yakni ritual sebelum akan pemanfaatan alat musik. Selanjutnya, dilakukan ritual jampi limau untuk memohonkan keselamatan anak sangei (para penari).

Para penari selanjutnya masuk ke arena slot gacor terbaru tertentu yang udah dipersiapkan. Mereka saling berhadapan bersama dengan sebuah meja yang terdapat di antaranya. Meja tersebut berisi bermacam sesajen, layaknya bakul sirih, bueak minyak, lampu damar, talam, dan ayam jantan.

Tari Kejei miliki 6 gerakan yang miliki arti masing-masing. Pertama, gerak sembah menari sebagai lambang penghormatan kepada roh leluhur, tamu undangan, dan penonton. Kedua, gerak bederap tidak benar pinggang yang melambangkan kebijaksanaan dalam menyita keputusan. Ketiga, gerak petik jari yang merupakan lambang penerimaan terhadap keluarga atau kawan baru.

Keempat, gerak mateak dayung yang menyimbolkan penyerahan hidup terhadap Tuhan. Kelima, gerak sembah penyudo yang melambangkan ucapan terima kasih atas kelancaran Tari Kejei. Terakhir, gerak mendayung yang berarti perpisahan.

Meskipun udah berusia berabad-abad, Tari Kejei tetap konsisten dipertunjukan. Selain dalam acara pernikahan, tari sakral ini juga dipentaskan dalam acara khitanan, rutinitas marga, dan penyambutan para biku.

Nah Sobat Pariwisata, Budaya sebagai identitas bangsa perlu tetap digemakan. Untuk Tari Kejei ini udah ada sebelum akan transformasi industri dunia hiburan menginvasi ke Indonesia, warisan leluhur kita dulu udah memaknai pesan kebhinnekaan.

Salah satu tantangan di masa global selagi ini, bercampurnya kebudayaan yang mampir dari bermacam tempat ke dalam penduduk Indonesia. Jika kebudayaan yang mampir tersebut tidak diatur sedemikian rupa, mungkin-akan dapat, melunturkan budaya sopan santun, toleran, saling menjunjung yang ada di tengah penduduk kita, khususnya generasi muda sebagai tidak benar satu group paling aktif dalam masa informasi digital.

Ini juga, mungkin! Kebudayaan dari asing lebih moderen dan kekinian. Namun, budaya Indonesia tidak kalah bagusnya untuk diperkenalkan. Budaya Indonesia justru banyak ragamnya. Jangan hanyalah ‘comot’ dan menyingkirkan jati diri kebudayaan sendiri.

Dalam kondisi demikian, diperlukan penguatan pendidikan karakter. Baik secara konvensional maupun lewat literasi digital. Di antarannya adalah bersama dengan menggemakan nilai-nilai yang terdapat dalam empat pilar kebangsaan Kebangsaan yakni Pancasila, UUD 45, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika, serta mengetengahkan nilai-nilai keagamaan yang moderat kepada penduduk sebagai benteng dari arus globalisasi.

Redaksi Pariwisata Indonesia konsisten membangun stimulan sikap optimisme menguatkan jati diri dalam bermain judi slot online di Situs Judi Slot Terbaru Deposit Pakai Pulsa karena itu salah satu faktor kemenangan. Salah satunya, tidak meremehkan warisan leluhur kita dulu bersama dengan mengenal Tari Tajei dari provinsi Bengkulu.

Oh iya, Sobat Pariwisata th. 2017, Tari Kejei ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Bengkulu. Pemerintah konsisten berupaya maksimal agar warisan budaya bangsa tidak lekang ditelan zaman. Saatnya dunia internasional mengakui kekayaan budaya Indonesia.